Selasa, 28 Disember 2010

Kisah Bertanya Pada Ahli Hikmah

Berhijrah kita untuk Allah s.w.t

Assalamu'alaikum...

Alhamdulillah, masih Allah beri kelapangan masa untuk aku berkongsi sedikit cerita dengan kalian semua. ianya cerita yang menarik dan penuh pengajaran buat kita. moga-moga boleh sesuatu yang baik dari penceritaan ini...

Panas gurun pasir seakan membakar ubun-ubun, ketika seorang pemuda bernama Fulan melangkah tanpa kenal lelah. Telah berpuluh kilo meter jarak yang ia tempuh, namun semangatnya tak jua surut, demi mengikuti jejak seorang Ahli Hikmah. Ada sesuatu yang begitu mengganjal hati si Fulan, dan ia berharap Ahli Hikmah itu bisa menjawab semua pertanyaannya.

“Wahai, Ahli Hikmah yang dimuliakan Allah! Telah begitu jauh jarak yang kutempuh untuk mencarimu. Dan rupanya, di tempat inilah Allah berkenan mempertemukan kita,” kata si Fulan penuh kelegaan. Si Ahli Hikmah yang sedang berisitirahat di bawah pohon kurma tampak tertegun. “Wahai, Pemuda! Siapakah engkau ini ? Ada perlu apa mencariku ?” tanyanya heran.

Si Fulan duduk bersila di hadapannya. “Aku adalah si Fulan. Telah berbilang masa aku mencarimu, demi mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Aku ingin mendapatkan ilmu yang telah diberikan Allah padamu,” jawab si Fulan santun.

“Semoga Allah mencatat jerih payahmu sebagai pahala wahai, Fulan. Apakah gerangan yang ingin kau tanyakan ?” tanya Ahli Hikmah itu ramah.
Si Fulan terdiam sejenak. “Ceritakanlah padaku tentang LANGIT, dan apakah yang lebih berat darinya.”

Ahli Hikmah itu mengangguk. “Ketahuilah, Fulan. Bahwa KEBOHONGAN yang dilakukan oleh orang-orang suci adalah lebih berat daripada langit.”

“Lalu ceritakanlah tentang BUMI, dan apa yang lebih luas darinya,” pinta si Fulan lagi bersemangat.

“Sesungguhnya, KEBENARAN adalah lebih luas daripada bumi,” jawab si Ahli Hikmah pula.

“Dan ceritakanlah tentang BATU, serta apa yang lebih keras darinya.”

“HATI orang kafir jauh lebih keras daripada batu wahai, Fulan.”

“Lalu, apakah yang lebih panas dari API wahai, Ahli Hikmah ?”

“Sungguh KERAKUSAN lebih panas daripada api.”

“Ceritakanlah pula tentang ZAMZAHIR, dan apa yang lebih dingin darinya.”

“Wahai, Fulan. Ketika kau sangat butuh pada orang yang kau cintai, tapi kau DIACUHKAN, maka itu jauh lebih dingin daripada zamzahir.”

“Alangkah engkau sangat bijak wahai, Ahli Hikmah. Tapi ceritakanlah padaku tentang LAUT, dan apa yang lebih kaya darinya.”

“Ketahuilah, hati yang selalu QONA’AH jauh lebih kaya daripada laut dan segala isinya.”

“Terakhir, ceritakanlah tentang ANAK YATIM, dan apa yang lebih dipandang hina darinya.”

“Orang yang suka menghasut, lalu perkara itu terbongkar di depan orang banyak, maka ia dipandang jauh lebih hina daripada anak yatim.”

Si Fulan pun terdiam sejenak sambil menarik napas panjang.

“Sungguh Allah telah menganugerahkan kemuliaan dan ilmu yang tinggi padamu wahai, Ahli Hikmah. Kini hatiku terasa tenang karena telah mendapatkan apa yang kucari selama ini,” kata si Fulan kemudian. “Jika demikian, engkau boleh kembali ke kampung halamanmu,” kata si Ahli Hikmah sambil tersenyum.

“Tidak, aku tak kan pergi ! Sungguh setelah mendengar semua jawabanmu, aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Sampai semua ilmu yang kau miliki kau bagikan padaku,” jawab si Fulan mantap. Si Ahli Hikmah tertegun melihat kekukuhan hati pemuda itu. Ia pun tak kuasa menolak. Maka sejak itu jadilah si Fulan sebagai pengikut setianya hingga masa yang tak ditentukan.

(*) Catatan: Zamzahir = Air yang sangat dingin

http://www.boemi-islam.com/content.php?q_idn_content=247&q_idn_content_kat=9

Kalimah Cinta: Mudah Dilafaz Tapi Sukar Dibuktikan



Assalamu'alaikum....

Alhamdulillah, Segala puji Bagi Alla s.w.t tuhan sekalian Makhluk yang menjadikannya setiap makhluknya itu berpasang-pasangan dan berkasih sayang sesama mereka. Maha Suci Allah s.w.t tuhan yang juga menciptakan setiap sesuatu tanpa setiap sesuatu itu meminta pada-Nya dan lantas menyediakan segala kemudahan untuk setiap sesuatu. Dan amat rugilah jika kita mencari jalan yang dimurkai oleh Allah s.w.t kerana sesungguhnya jalan yang dimurkai Allah itu adalah merupakan jalan yang mengundang segala kesusahan.

Pernah terbaca satu artikel di laman maya dan artikel itu sempat aku copy dan paste untuk sahabat-sahabat menatapnya dan semoga artikel ini memberi sesuatu bauat sidang pembaca sekalian yang juga sahabat-sahabatku.

oleh: Ust Saudi Arof

CINTA adalah urusan hati. Tahap ketinggian cinta seseorang, tidak
dapat dinilai oleh panca indera yang ada. Cinta yang dilafazkan oleh
jutaan umat Islam dewasa ini semakin hambar. Kata-kata cinta kepada
Allah, Rasul-Nya dan Islam, hanya tinggal slogan kosong tanpa ruh
lagi. Cinta umat Islam kepada Allah dan rasul-Nya, telah terhakis
oleh faham kebendaan semakin mendapat tempat dalam hati manusia.

Keyakinan kepada yang ghaib dianggap sebagai tahyul dan khurafat.
Akhirnya, cinta yang didakwa segar dan mekar, sebenarnya palsu.
Mereka mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi tidak
cintakan Allah dan Rasul-Nya.

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan
selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.
Adapun orang yang beriman sangat cinta kepada Allah."(Al-Baqarah: 165)

Cinta mempunyai beberapa tanda. Orang yang sedang bercinta akan
memaparkan alamat-alamatnya yang amat jelas. Begitu juga dakwaan
cinta kepada Allah dan RasulNya. Sewajarnya dibuktikan dengan tanda-
tandanya yang dapat disaksikan. Kecintaan seseorang kepada Allah,
akan menjadikannya selalu ingat kepada Allah. Dalam apa juga
keadaannya, Allah sentiasa dalam ingatan.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (iaitu)
orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan
bumi."(Ali Imran : 190 -191).

Selalu ingat kepada kekasih adalah lumrah orang bercinta. Ucapan
cinta yang tidak disertai dengan "ingatan rindu" pada si dia, adalah
ucapan cinta palsu.

Bahkan, sebenarnya, menyebut nama Allah adalah satu perintah dari-
Nya, dan bukan semata-mata tanda rindu kepada-Nya.

"Wahai orang yang beriman, sebutlah Allah dengan sebutan yang banyak"
(al-Ahzab : 41)

Lazimnya, ingatan orang yang bercinta, selalu tertumpu kepada
kekasihnya. Setiap peristiwa yang dilaluinya, akan mengingatkan dia
kepada nostalgia ketika bersama-sama dengan kekasihnya. Bicara
hatinya akan selalu ditujukan kepada buah hatinya. Puisi-puisi indah
akan diukir sebagai tanda ingatan pada kekasihnya. Bagi orang yang
beriman, salah satu wasilah untuk mengingati Allah ialah melalui
solat. Dengan solatlah pertemuan dengan kekasihnya dilakukan. Dalam
solatlah dilafazkan pengagungnya dan harapannya. Solat itu menjadi
indah dan mengasyikkan.



"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain
Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk mengingati Aku"
(Thaaha: 14)



Dakwaan cinta yang tidak selalu mengingati Allah, khususnya
meninggalkan solat adalah dakwaan palsu. Allah menyebut golongan ini
sebagai golongan munafik, kerana ucapan lidah mereka tidak menepati
apa yang ada di dalam hati mereka. "Sesungguhnya orang munafik itu
menipu Allah, dan apabila mereka berdiri untuk solat. Mereka berdiri
dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan solat) di harapan
manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali"
(an-Nisaa:142). Apa yang jelas daripada ayat tersebut, orang munafik
mengingati Allah, tetapi ingatan mereka kepada Allah sedikit sahaja.
Dalam membicarakan hal ini, marilah kita mencerminkan diri kita.



Adakah kita telah dan sedang mengingati Allah selayaknya orang yang
mengaku cintakan Allah? Alangkah tidak patutnya kita hanya ingat
kepada Allah dalam solat lima waktu sehari semalam. Lebih tidak patut
apabila dalam solat, kita ingat "si dia" yang selain daripada Allah.
Bukanlah ungkapan ini untuk menyatakan kemunafikan seseorang, tetapi
untuk berhati-hati agar cinta dakwaan kita itu cinta yang sebenarnya.
Saidina Umar, pernah bertanya kepada Huzaifah al-Yaman, tentang sama
ada dia termasuk orang munafik. Inilah antara contoh orang yang
khuatir tentang yang khuatir tentang kedudukan dirinya, walhal kita
semua maklum keunggulan Umar. Cinta kita kepada Allah, seharusnya
sentiasa panas dan segar, sesuai dengan nikmat yang banyak daripada-
Nya.


"Kerana itu, ingatlah kamu kepada-Ku nescaya Aku ingat(pula)
kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari
(nikmat)Ku "

(al-Baqarah : 152)

cinta yang sebenar adalah cinta kepada Allah s.w.t dan memang kita seharusnya mempunyai rasa cinta kepada-Nya.